Kata Stres sering kita dengar pada saat ada masalah, baik itu masalah kita sendiri maupun masalah orang lain yang dekat dengan kita.. Pada dasarnya, stres hanyalah
sebuah ketakutan yang datang dari dalam hati seseorang pada waktu menghadapi masalah..
Inilah yang banyak terjadi pada setiap orang “termasuk diriku sendiri”, belum melangkah saja sudah putus harapan..belum melangkah saja sudah ketakutan..belum melangkah saja sudah kebingungan.
Baru mau belajar berjalan saja, sudah takut akan bayangan jatuh yang
menakutkan. Padahal kalau kita sudah merasakan sakitnya jatuh karena
berjalan, maka kita takkan takut lagi untuk belajar berjalan.
Inilah yang menjadi masalah kebanyakan bagi kita tentang mengartikan
‘jatuh’ pada saat belajar berjalan. Memang tak sedikit mereka yang baru
belajar berjalan kemudian jatuh kesakitan dan beberapa saat kemudian tak
mau lagi belajar berjalan. Tapi itu hanya beberapa saat saja, tak mau
mencoba lagi. Akan tetapi jika sudah siap lagi untuk belajar berjalan,
maka ia akan berhati-hati. Atau ia mencari cara lain supaya kalau jatuh
tidak akan merasakan sakit, misalkan belajar berjalan di atas hamparan
pasir.
Dan Inilah makna dari sebuah resiko dari pelajaran untuk belajar
berjalan. Resiko dari keputusan yang diambil untuk bisa berjalan. Makna
‘jatuh’ merupakan sebuah kemungkinan yang harus kita hadapi. Makna jatuh
itu sendiri memberi hikmah untuk bagaimana kita berdiri lagi dan
mencari cara untuk menyiasatinya. Masak karena hanya jatuh terus tak mau
berjalan untuk selama-lamanya, tak mungkin kan. Karena dengan jatuh
kita lebih mampu dan siap untuk menyikapi segala sesuatu supaya lebih
siap lagi untuk lebih cepat belajar berjalan.
Di sinilah gambaran dari setiap orang yang stres dan bingung akan
tampak “kita mau berjalan namun takut jatuh”. Padahal teman-teman kita
sudah mampu untuk berjalan dan bahkan sudah mampu untuk berlari.
Kesendirian dan ketakutan yang ada menjadikan kita tertekan dan bingung.
Kesendirian yang kita buat sendiri hanya karena ketakutan2 akan
bayangan jatuh yang sangat menyeramkan. Bingung karena melihat
teman-teman kita sudah bisa terseyum riang berjalan dan berlari.
Bingung yang diciptakan sendiri hanya takut akan seramnya rasa jatuh.
Pertentangan dan gejolak jiwa inilah yang membuat kita tertekan,
bingung dan stres. Takut, bingung, tertekan dan stres yang diciptakan
sendiri, hanya karena takut banyangan jatuh yang menakutkan. Bingung dan
stres hanya karena tak mau keluar dari keterkungkungan ketakutannya.
Jadi kalau kita takut jatuh! Bagaimana kita bisa keluar dan mencari
celah yang ada?
Bukankah jatuh bisa diantisipasi. Bukankah jatuh itu bisa disiasati.
Bukankah jatuh adalah cara untuk memperkaya ide, gagasan dan strategi.
Dalam masalah ini, bukankah jatuh bisa dihindari kalau kita jeli
menemukan cara yang bisa mengatasinya. Lalu bagaiman kita akan keluar
dari keterkukungan kebingungan dan stres kalau kita tak mau menghadapi
atau malah menghindari. Kalau kita tak mau mencoba dan menyiasati,
bagaiman mungkin keluar dari masalah. Bukankah masalah sebenarnya bukan
masalah! karena masalah pasti bisa diatasi!
Ayo! belajarlah untuk mau menghadapi hidup, atau malah hanya mau jadi
pengecut untuk hidup. Pengecut yang tak mau mengahadapi masalah hidup
untuk hidup. Percayalah tak ada tempat bagi seorang pengecut di dunia
ini. Kecuali hanya akan menjadi permainan hidup para pengecut lainnya.
Pengecut yang tak akan punya masa depan yang menyenangkan dan bahkan
menyedihkan dalam hidupnya. Mudah dipecundangi para pecundang. Mudah
terpuruk dalam persaingan. Takkan ada tempat yang menyenangkan bagi
kita, kecuali kepediahan dan keperihan hidup. Lalu siapakah orang bodoh
yang mau jadi seorang pengecut!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar